Roller-Coaster track called LIFE
Kuliner, belanja, jalan Braga. Mungkin itu yang aku tahu dari Bandung. Aku seorang perantau asal Kalimantan, mencoba peruntungan untuk bekerja di Bandung. Alhamdulillah, aku berhasil bekerja sebagai assisten marketing di salah satu hotel, tepatnya berada di jalan Braga. Bisa dibilang pusat kota Bandung.
“heh, kamu anak baru ya?” seorang lelaki berbicara menghampiriku di kantin. Agak sinis namun tersungging senyuman di wajahnya.
“bukan pa, saya anak konda” jawabku sambil nyengir sedikit tersenyum.
“ahhahaha bisa aja kamu. Sini gabung.” Jawabnya sambil memiringkan kepalanya ke kiri. Menunjukan mejanya yang sudah terisi seorang wanita muda berbaju batik. Ku jawab dengan senyuman tanpa menjawab. Kami pun berkenalan. Lelaki itu bernama Boy, dan si wanita itu Listya. Boy adalah atasanku, dia seorang menejer marketing dan Lis seorang reseptionis. Lama berbincang aku tahu mereka adalah sepasang kekasih.
Beberapa bulan bekerja bersama Boy aku merasa nyaman, bisa dibilang mungkin aku mulai jatuh cinta kepadanya. Pacar orang. Kami berdua mulai dekat, terlebih setelah Lis pindah bekerja ke luar kota beberapa bulan lalu. Teman-teman tidak heran dengan kedekatan kami, mungkin karena aku yang memang kelewat ramah dengan semua orang. Bagus lah! Pikirku jahat.
**
Minggu depan akan ada event besar di Bandung. Kata Boy, event itu rutin dilakukan beberapa tahun sekali. Namanya Braga Festival. Jadi, nanti sepanjang jalan braga plus jalan cikapundung akan ditutup selama 3 hari dan akan dibuka pameran, festival. Hmm, cukup menarik. Hotel kami diberi stand untuk mempromosikan hotel.
“Night sweety, jangan lupa besok temani aku meeting ya? Sorenya baru kita kencan ke Bragfest. Bisa kan? Ya ya? Please… :D “ Bujuknya. Kedekatan kami memang kelewat wajar. Mungkin karena dia tidak bisa menjalankan hubungan jarak jauhnya dengan Lis, sehingga dia sering merasa kesepian dan aku selalu ada menemaninya.
Boy terlihat sumringah ketika meeting berakhir. Dengan semangat dia memacu mobilnya menuju Bandung, menuju Braga Festival.
Sampailah kami di jalan Braga. Pertama kulihat begitu banyak lukisan dijajarkan ditengah jalan Braga dengan kiri kanan penjual makanan-makanan dan souvenir khas Bandung. Senja, musik, jalan Braga dan kami yang saling memegang tangan dengan erat. Hari kedua berlalu seperti kemarin, kami masih berdua berpegangan tangan sambil memotret dan sesekali berpelukan. Tidak peduli orang sekitar. Kami masih menelusuri jalan Braga.
Hari ketiga sungguh berat bagiku.
“Lis akan datang ke Bandung Hari ini. Maaf aku gak bisa menemanimu sweety.” Isi sms Boy membuatku tidak mood menghadapi besok. Hmmm…
Hari ini giliranku jaga stand. Siangnya aku datang ke kantor mengambil kaos dan bootsku. Ternyata Boy juga sedang berada di officenya.
“Sudah dapet kaosnya?” Boy mengawali pembicaraan. “Maaf ya” raut menyesal terlihat di wajahnya.
“iya, ngga apa-apa ko. Aku sudah dapet kaosnya, tinggal ganti baju. Daah” jawabku kemudian meninggalkannya.
Baru beberapa langkah keluar hotel aku dibuat terkaget oleh Boy yang memegang tanganku. “Mau pergi bareng?” Tanya nya. Hanya anggukan dan senyuman yang ku berikan. Kami berdua sepanjang jalan berpegangan tangan menuju stand kami yang terletak dijalan Cikapundung. Pegangannya semakin dekat ketika jalan semakin dekat. Dipenghujung jalan Braga dia berhenti, dan kemudian mencium keningku agak lama sambil berbisik “I’ll be back, Hanum. I promise.”. Dan kemudian dia berlari kearah seorang wanita dan memeluknya dari belakang, kearah Listya, kekasihnya.
We never SAY that we love eachother everyday. But we SHOW it. It worth.
