Roller-Coaster track called LIFE
“Mika, jangan pulang malam-malam” “Mika, dimana? Bapak jemput ya”. Sebagai anak satu-satunya, Bapak selalu protektif terhadapku, apalagi dia single parents. Ibuku meninggal ketika dia melahirkanku. Sedih. Selama 18 tahun aku hidup tidak pernah sekalipun aku mengenalnya, bahkan melihat wajahnya.
Kembali ke bapak. Walau usiaku sudah 18tahun tapi dia menganggapku seolah 13 tahun. Tidak boleh ini, tidak boleh itu. Menyebalkan. Aku tahu itu demi kebaikanku, karena bapak sayang padaku. Tetapi yang aku butuhkan hanyalah kepercayaan bapak saja, toh aku juga tahu diri, aku bisa jaga diri. Hmm, apa boleh buat. Itu peraturan ayahku.
*
“Pak, Mika kan panitia ospek kampus, besok diharusin dateng subuh…”
“ya sudah besok bapak antar pagi-pagi sekalian bapak ke kantor” Belum selesai aku berbicara Bapak sudah memotong pembicaraanku.
“tapi, malemnya diharusin nginep di kampus pa..” lanjutku dengan nada agak putus asa.
“ngga boleh. Kamu anak perempuan, bapak khawatir ada apa-apa sama kamu. Bapak tau itu acara kampus tapi bapak ngga izinin kamu pergi. Maaf ya sayang, bapak sayang kamu. Bapak khawatir kenapa-kenapa sama kamu”. Bapak menjawab sambil menghampiriku dan kedua tangannya menyentuh bahuku.
Sudah ku duga endingnya pasti seperti ini. “ya udah ngga apa-apa. Mika udh yakin ko pasti begini”
“Kamu tau kenapa bapak overprotektif sama kamu? Ada dia di matamu, ada ibu di matamu”. Masih memegang bahuku, bapak mulai bercerita. “Waktu itu bapak ibumu berumur 18tahun, sama seperti kamu sekarang, sesuatu menimpa kami. Kami yang sedang dimabuk cinta hingga lupa batasan, lupa peraturan, lupa segalanya. Setan telah merasuki kami. Kami lupa diri, kami khilaf”. Terlihat raut wajah bersalah di wajah bapak. Aku yang mulai mengerti arah ceritanya mulai galau menahan tangis dan amarah.
“sampai akhirnya, kami tersadar akan perbuatan kami, bapak menyesal, bapak marah pada diri bapak sendiri. Akhirnya kami tahu ibumu hamil, bapak sudah siap bertanggung jawab. Orang tua kami kecewa, tidak terima, akhirnya kami memutuskan keluar kota. Setelah kamu lahir, bapak hendak menikahi ibumu, namun sayang, Tuhan menghukum bapak dengan cara memanggil ibumu. Bukan, kamu bukan anak haram, kami lah yang haram melakukan perbuatan haram. Kamu suci, seperti bayi lainnya. Maafkan bapak sayang, maaf. Kamu tahu kenapa bapak cerita begini? Karena bapak tidak ingin kamu melakukan kesalahan yang sama seperti kami. Bapak tidak bisa menjaga ibumu waktu itu, kini bapak ingin menjagamu. Maafkan bapak” bapak memelukku sambil menangis.
Banyak sekali perasaan berkecamuk dihatiku. Banyak sekali yang ingin kukatakan kepada bapak. Seharusnya aku berhak marah, tapi aku tak ingin menghukum bapak lagi. Cukup. Cukup aku ikut menangis dipelukan bapak. “Maafkan Mika, pak” ucapku dalam hati.