Roller-Coaster track called LIFE
Aku seorang wanita yang mencintai pekerjaanku, sangat. Well, realistis saja. Aku sudah bukan perempuan berumur belasan yang hobi main. Sudah saatnya memikirkan masa depanku. Aku berhasil mengajar mimpiku, bekerja sebagai sales and marketing di salah satu hotel berbintang di kotaku. Aku yang super duper sibuk, bahkan waktu libur jarang ku manfaatkan dengan baik. Kalau tidak disuruh lembur, aku membawa pekerjaanku kerumah.
Bahkan, aku tak sempat memikirkan untuk menjalin hubungan dengan lawan jenis. Walau teman-temanku dengan senang hati menjodohkanku dengan teman atau saudaranya.
Tapi, semua berubah ketika aku tak sengaja bertemu kembali dengan Tyo, mantan pacarku waktu SMA. Kami tak sengaja bertemu kambali di facebook. Iseng ku sapa dia, dan dia menanggapi. Entah saat dia memintaku kembali, tak ada rasa ragu di diriku. Ahkirnya kami berkomitment lagi setelah 3tahun berpisah.
Kamu yang seorang musisi dan produser, yang sama sibuknya seperti aku. Kita yang jarang bertemu bahkan hanya sekedar pergi makan siang. Kamu yang cuek, kamu yang tidak pernah melarangku ini itu, kamu yang bukan penggombal walau kamu musisi. Namun tahu saatnya menghiburku, mendengar keluh kesahku tentang pekerjaanku, kamu yang sama sekali tidak romantis. Tapi justru aku menikmatinya, aku tidak mempermasalahkannya. Karena justru itu yang aku inginkan. Pernah aku berpikir kalau pacar bukan kebutuhanku sekarang ini, karena aku tak ingin hubungan kami nanti terbengkalai karena aku yang terlalu fokus pada karirku. Tapi kamu merubah pandanganku akan itu.
**
“aku kangen” kataku di sms.
“tau koo, tau” balasmu singkat.
“yee beneran!” balasku kesal.
“iyaa beneraan” katamu lagi.
“iya deh iya”
“iya apa?”
“ngga tau”
“kenapa ngga tau?” terus kemudian obrolan kita ngawur. Sampai akhirnya kamu membuat joke buatku.
Merindukanmu itu seru. Karena kamu beda. Kita yang sama-sama sibuk. Kamu yang jarang sekali bilang ‘i love you’ ‘aku sayang kamu’ atau sekedar bilang ‘aku kangen’. Selalu aku yang harus mengakui duluan, selalu aku yang bilang kalau aku kangen. Pernah aku protes, dan kamu bilang “sorry, if i never tell you that i love you everyday. I rather than show it to you everytime. And sorry if i never tell you that i miss you. I couldn’t miss you more cause i’ve been missing you too much” dan kemudian kamu mndaratkan bibirmu di keningku. Aah, itulah yang membuatku jatuh cinta padamu, Tyo.
~ inspired by my (ex) boyfriend ~
“Aku maunya kamu Yo, titik!” teriakku pada Tyo. sahabatku dan cintaku. hanya dia yang kini aku miliki. ayahku yang berselingkuh dan kemudian kabur, ibuku yang gila kerja, keluargaku yang berantakan, aku yang kesepian. tapi Tyo selalu ada disaat aku butuh seseorang. kami sudah bersahabat semenjak dari SD.
“Please, cuma ini yang aku mau Yo, cuma kamu. aku pengen bebas. aku pengen ngejalanin kehidupanku sendiri. please” aku memohon sambil terus memegang tangan Tyo.
“tapi aku ngga punya uang Nis, kamu tahu sendiri kan selama ini aku ngga kerja” Tyo kaget dengan keputusanku untuk mengajaknya kabur dan kawin lari.
“Aku cinta kamu Yo, sangat. aku ngga peduli. aku punya tabungan, kita bisa mulai dari nol. aku ngga mau terus-terusan gini, aku benci keluargaku. mungkin dengan aku pergi mereka bisa sadar kalau aku ada”
tanpa berkata-kata Tyo memelukku. “Kalau itu maumu, kalau kamu yakin kamu akan bahagia, aku turuti keinginanmu.”
“kamu yakin? maaf aku selalu mengorbankanmu Yo, tapi cuma kamu yang aku miliki sekarang, cuma kamu yang aku ingin sekarang” ku eratkan lagi pelukanku padanya. “terima kasih, i love you”
Something always brings me back to you, never takes too long.
You hold me without touch.
You keep me without chain.
Sudah kebiasaan dan kesukaan temanku kalau sudah mengenalkan teman lelakinya padaku. oke, mentang-mentang hanya aku yang melajang.
“Nih, namanya Yoga. temanku dari kecil. Yoga, ini Kimi, teman kantorku” kata Lia dengan penuh semangat. OOh, jadi dia mengajakku jalan karena ini alasannya.
“Kimi” “Yoga” kami menjawab bersahutan sambil bersalaman. Dengan buru-buru Lia pun meninggalkan kami berdua. Agak canggung, kami pun mengobrol. hari pertama bertemu kami masih kaku. kami tidak tahu mesti bagaimana. akhirnya kami tukeran nomor handphone. hari berikutnya Gaga menjemputku ke kantor. Oh ya, dia menyuruku memanggil begitu. supaya akrab katanya. pertemuan pun sering kami lakukan. sampai akhirnya, kami pun berpacaran.
seminggu. sebulan. dua bulan. tiga bulan kami lalui bersama. indah sekali. ku akui, Gaga memang cowok idamanku, he’s my tipe. seorang pengusaha muda, umurnya masih 26 tapi dia sudah mapan. well, realistis saja, aku sudah bukan anak remaja yang mencari cinta monyet. umurku sudah 23, aku mencari calon suami.
*
“yaang, sebelum Gaga ke Bali, Gaga pengen kita tunangan dulu. kamu mau kan?” perempuan mana yang tidak senang mendengar kata-kata itu dari pasangannya?. Sejak saat itu aku berharap. menunggu kamu merealisasikan janjimu.
lalu kamu bilang kamu disuruh orang tuamu ke bali. kamu berjanji hanya sebentar. kami masih baik-baik saja. sampai kamu memutuskanku, memutuskan kita, dan memutuskan untuk kembali ke mantanmu. lebih sakit lagi kalau kamu hendak melamarnya. apa magsudnya?
*
Inilah aku, tanpamu. masih terpuruk karena tak mampu melupakanmu. tak mampu move on darimu. tak mampu menghapus semua kenangan kita. tak mampu melupakan janjimu yang terlalu membuatku berharap. Bahkan setelah 2tahun satu bulan ku lalui tanpamu, 761 hari ku lewati tanpa tahu kabarmu, 25kali tanggal 20 ku hadapi tanpa tahu kamu dimana.
sempat beberapa kali aku mencoba manjalin hubungan dengan orang lain. tapi ku akui, aku tak bisa. aku selalu terbayang-bayang dirimu. aku sadar ini hal yang bodoh. mau sampai kapan aku berharap kamu kembali?.
“Aku ini seperti rumah yang sudah bobrok. tak ada yang bisa diperbaiki. sekeras apapun usahanya memperbaikiku, itu tidak cukup. dia berhak mendapatkan lebih dari sekedar ruangan yang rusak dan kemudian diperbaiki. aku tak dapat ditinggali.”
“Mika, jangan pulang malam-malam” “Mika, dimana? Bapak jemput ya”. Sebagai anak satu-satunya, Bapak selalu protektif terhadapku, apalagi dia single parents. Ibuku meninggal ketika dia melahirkanku. Sedih. Selama 18 tahun aku hidup tidak pernah sekalipun aku mengenalnya, bahkan melihat wajahnya.
Kembali ke bapak. Walau usiaku sudah 18tahun tapi dia menganggapku seolah 13 tahun. Tidak boleh ini, tidak boleh itu. Menyebalkan. Aku tahu itu demi kebaikanku, karena bapak sayang padaku. Tetapi yang aku butuhkan hanyalah kepercayaan bapak saja, toh aku juga tahu diri, aku bisa jaga diri. Hmm, apa boleh buat. Itu peraturan ayahku.
*
“Pak, Mika kan panitia ospek kampus, besok diharusin dateng subuh…”
“ya sudah besok bapak antar pagi-pagi sekalian bapak ke kantor” Belum selesai aku berbicara Bapak sudah memotong pembicaraanku.
“tapi, malemnya diharusin nginep di kampus pa..” lanjutku dengan nada agak putus asa.
“ngga boleh. Kamu anak perempuan, bapak khawatir ada apa-apa sama kamu. Bapak tau itu acara kampus tapi bapak ngga izinin kamu pergi. Maaf ya sayang, bapak sayang kamu. Bapak khawatir kenapa-kenapa sama kamu”. Bapak menjawab sambil menghampiriku dan kedua tangannya menyentuh bahuku.
Sudah ku duga endingnya pasti seperti ini. “ya udah ngga apa-apa. Mika udh yakin ko pasti begini”
“Kamu tau kenapa bapak overprotektif sama kamu? Ada dia di matamu, ada ibu di matamu”. Masih memegang bahuku, bapak mulai bercerita. “Waktu itu bapak ibumu berumur 18tahun, sama seperti kamu sekarang, sesuatu menimpa kami. Kami yang sedang dimabuk cinta hingga lupa batasan, lupa peraturan, lupa segalanya. Setan telah merasuki kami. Kami lupa diri, kami khilaf”. Terlihat raut wajah bersalah di wajah bapak. Aku yang mulai mengerti arah ceritanya mulai galau menahan tangis dan amarah.
“sampai akhirnya, kami tersadar akan perbuatan kami, bapak menyesal, bapak marah pada diri bapak sendiri. Akhirnya kami tahu ibumu hamil, bapak sudah siap bertanggung jawab. Orang tua kami kecewa, tidak terima, akhirnya kami memutuskan keluar kota. Setelah kamu lahir, bapak hendak menikahi ibumu, namun sayang, Tuhan menghukum bapak dengan cara memanggil ibumu. Bukan, kamu bukan anak haram, kami lah yang haram melakukan perbuatan haram. Kamu suci, seperti bayi lainnya. Maafkan bapak sayang, maaf. Kamu tahu kenapa bapak cerita begini? Karena bapak tidak ingin kamu melakukan kesalahan yang sama seperti kami. Bapak tidak bisa menjaga ibumu waktu itu, kini bapak ingin menjagamu. Maafkan bapak” bapak memelukku sambil menangis.
Banyak sekali perasaan berkecamuk dihatiku. Banyak sekali yang ingin kukatakan kepada bapak. Seharusnya aku berhak marah, tapi aku tak ingin menghukum bapak lagi. Cukup. Cukup aku ikut menangis dipelukan bapak. “Maafkan Mika, pak” ucapku dalam hati.
Aku selalu benci ketika perempuan berbobot 50kg kurang yang selalu mengeluh kalau dirinya itu gendut. Well, apa kabar badanku yang berbobot 65kg? oke, walau begitu aku tetap percaya diri dan tidak ingin mengeluh. Toh mengeluh nggak akan bikin kurus kan?. Sudah jadi kebiasaan mungkin disaat perempuan (Aku) mempunyai masalah kemudian melarikan diri ke makanan. Iya kan?. Sudah jangan menyangkal!.
Diet? Ayahku tidak menyukainya, katanya menyiksa diri. Tapi aku cukup sering berolahraga. Walaupun ngga bikin kurus, tapi aku tetap sehat. Senang sekali temanku tidak mempermasalahkan berar badanku, malah ada yang bilang seksi. Wow. Raka, sahabat lelakiku satu-satunya yang bilang begitu. Yang perempuan? Menyuruhku diet, memanggilku ‘mbem’, menjadikanku sasaran ‘kegemasan’ mereka dengan mencubitku. Sudah biasa.
Beep beep. “mbem ayoo. Keburu siang. Aku udah didepan” oh ternyata Raka. Dia mengajakku jogging pagi ini. Seperti biasa.
“selamat pagi cungkriiing” candaku sambil menghampirinya yang sedang pemanasan dipinggir trotoar. Raka tidak menjawab sapaanku, malah dia terlihat heran. “kenapa? Aku cantik yaa?” godaku sambil berjalan mendekatinya.
“iyaa, kamu manis” jawabnya singkat sambil berjalan mendahuluiku.
“oh ya? Kata siapa?” aku berjalan menyusulnya.
“kata aku tadi”
“yeee, yang bener!” balasku malu-malu.
“iyaa bener. I love you mbem” Raka yang tadinya berjalan kini berlari seolah melarikan diri. Dia masih sempat menengok kearahku yang tertinggal sambil melemparkan senyuman.
JEDANG! Apa ini? Jantungku seperti berhenti mendengarnya. Langkahku pun terhenti. Seolah waktu pun berhenti. Walau tak begitu keras, namun kata-katanya terdengar jelas ditelingaku. Kukembangkan senyumanku dan berlari kearahnya. CHIIIIIITTT. DUAAARRRR. Sebuah motor melaju tak terkendali menghantam tubuh Raka. Raka terseret motor beberapa meter hampir mengenai trotoar. Kembali tubuhku terhenti. Kali ini perasaannya berbeda.
“rakaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa” sambil berlari kearahnya akupun berteriak. Semua orang berhamburan menghampiri Raka. Beberapa orang teriak memangggil dan mencari bantuan. Beberapa lagi mengasihaninya. Beberapa lagi mengamankan si pengandara motor. Perhatianku focus kepada Raka. Tidak ada satu katapun terucap dari mulutnya. Tidak ada satu gerakanpun yang dia buat. Dia sangat tenang. Walaupuun wajahnya berlumuran darah, tapiaku bias melihat ada sedikit senyuman tersungging.
“I love you, Raka. I love you too. I love you so damn much. Sorry I never told you what I should have say” kupeluk tubuhnya yang tidak bergerak itu. Ku tumpahkan air mata dibahunya. I’m just too scared of loosing you. But now I have to face this. Goodbye RAka, kata-kata terakhirmu akan selalu ku kenang. Pasti!
“Aku duluan ndak apa-apa yoh?” suara medok khas Elsy. Dia berlalu sambil melambaikan tangannya ke arahku.
“iya, ngga apa-apa Els. Hati-hati yaa.” Balasku sambil ikut melambaikan tangan. Karena arah rumah kami searah kami biasanya pulang bersama, tapi hari ini Elsy hendak berbelanja. Dia tidak ingin aku ikut, karena dia tahu aku tidak suka berbelanja kecuali kalau sedang benar-benar butuh.
Kulangkahkan kakiku agak cepat menuju halte. Langit mulai gerimis. Aku duduk sendiri di halte. Sesekali aku melihat kearah kanan, berharap bis tujuanku segera datang. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Masih belum ada tanda-tanda bis itu akan datang. Keempat kalinya aku mulai melihat samar-samar bis datang. Aku pun mulai berdiri. Dengan hati-hati kulangkahkan kakiku masuk ke dalam bis. Sambil sempoyongan aku mulai mencari tempat duduk.
“Jena, sebelah sini” seorang lelaki berteriak ke arahku sambil menunjuk ke kursinya. Dia memberikan tempat duduknya kepadaku dan memutuskan berdiri di sebelahku seolah ingin melindungiku.
“Terima kasih lagi” kataku sambil menengok ke arahnya. Memang beberapa hari ini aku sering satu bis dengannya. Walaupun aku tidak tahu siapa dia.
“kebetulan ya kita ketemu lagi” candanya.
“Maf, tapi aku tidak percaya dengan kebetulan. Kupikir tidak ada kebetulan di dunia ini, semua sudah ada yang men-settingnya.” Jawabku agak ketus. “dan bagaimana kamu tahu namaku?”
“well, oke. Tanpa sengaja kemarin aku melihat namamu tertulis di sampul buku yang kau pegang. Ngga apa-apa kan?” jawabnya dengan santai. ”hmm, apa kamu junga ingin tahu namaku?” tanpa berkata-kata aku berdiri dan menjawabnya dengan senyuman. Dan seperti biasa, aku turun terlebih dahulu. “oke. Sampai besok Jena” dengan sedikit berteriak dan percaya diri dia kembali menggodaku.
Masih sama, beberapa hari berikutnya aku selalu bertemu Aga di bis. Oh iya, dia menyuruhku untuk memanggilnya begitu, katanya supaya akrab. Selalu ada perasaan Dag Dig Dug ketika bersamanya. Ada perasaan aman dan nyaman ketika berbicara dengannya seolah kita sudah kenal lama sekali.
3 hari ini aku tidak bertemu dengannya lagi di bis. Rasanya seperti ada kehilangan. Well, tanpa aku sadari ternyata aku menikmati setiap pertemuan tak terduga itu. Menunggu setiap pertemuan berikutnya. Tapi aku sadar, aku tidak boleh berharap padanya. Aku bahkan tidak tahu siapa dia yang sebenarnya. Aku hanya tahu namanya. Prayoga.
First impression is important.
Setelah lima bulan menganggur, akhirnya aku berhasil mendapatkan pekerjaan sebagai Asisstance Editor di salah satu majalah terkenal di Kotaku. Hari pertama ini cukup membuatku sibuk menyiapkan semuanya. Mulai dari penampilan, peralatan yang harus dibawa, bahkan aku menyiapkan hal apa saja yang harus aku lakukan nanti.
Perlahan nafas mulai kuatur. Dengan pasti dan sedikit percaya diri aku mulai melangkah masuk ke dalam gedung. Dengan ramah, Receptionist di lantai L itu tersenyum padaku. Kembali aku berjalan menuju lift.
“Aku ikut!” sedikit berteriak karena pintu lift mulai tertutup. Namun aku berhasil masuk.
“Mau ke lantai berapa?” tanya seorang lelaki berkemeja biru dengan lengan yang dilipat hingga sikut dan membawa tas jinjing dan beberapa lembar kertas di tangan kirinya. Badannya yang tegap berdiri disebelahku. Mungkin dia sudah berkepala 3.
“lantai 9 Pak” kataku sambil tersenyum.
“Chic?”
“Ya” jawabku sambil tersenyum.
“Baru ya? Di bagian?” tanyanya lagi.
“Ya, saya Assisten Editor. Baru mulai kerja hari ini” jawabku.
“Ooh, hallo, siapa namamu?” sambil mengulurkan tangannya.
“Saya Kirana, Pak.” Kujawab sambil balas menjabat tanggannya.
“Kalau begitu kamu bekerja bersama saya. Beberapa hari ini saya cuti, jadi saya tidak tahu kalau saya dapat asisten baru hari ini. Saya Alif, Editor Chic. Welcome to the jungle.” Candanya sambil masih menjabat tanganku.
“Wow, baiklah Pak Alif, mohon bantuannya.”
“Just Alif, okay?”
Tinggg. Suara lift pun terbuka. Tangan kamipun masih menggenggam satu sama lain.
***
“Kamu kemana aja sih? Seharian ini ngga ada kabar” kataku sedikit kesal.
“Hp ku ketinggalan dimobil sayaang. Maaf aku tak tak sempat memberitahumu. Maaf juga kayanya aku ngga bisa mampir. Istriku baru pulang dari lampung sore ini.” Nada penyesalan terdengar dari speaker teleponku.
“hmm. ya udah. Ngga apa-apa. Aku tidur ya. Bye.” Jawabku kecewa.
“I love you”
“I love you too”
Aku tahu kata-kata sayang itu tak pernah serius kamu ucapkan. Kata-kata itu hanya kamu pakai ketika kamu mengingkari janji dan agar membuatku tenang. Sering kali aku memikirkan keadaan ini. Hubungan ini, masalah kamu dan keluargamu, masalahmu denganku, semuanya. Sempat ingin mengakhiri semuanya, hubungan kita.
‘Terlalu cinta’ sering membuatku kembali padamu, dan kamu pun kembali karena membutuhkanku. Aku yang jatuh cinta pada pria berkeluarga, jatuh cinta padamu. Kamu yang membutuhkanku karena istrimu yang terserang HIV. Kita yang menjalani hubungan terlarang ini. Kamu sang Editor, dan aku sang Asisten.
KEBAIKAN,
Sebab kebaikan adalah pembuktian keimanan yang sanggup melampaui keimanan itu sendiri. Melampaui batas-batas agama. Saat kita menjadi orang beriman, kita memiliki identitas tersendiri-kita tahu bahwa ada seseorang yang lain dengan keimanan yang berbeda. Tetapi saat kita berbuat baik, kita tak perlu melihat identitas-keimanan orang lain-sebab kebaikan sesungguhnya melampaui iman.
jadi, mengapa kebaikan lebih utama dari keimanan?
Sebab iman hanya berdampak bagi dirimu sendiri,sementara kebaikan berdampak bagi seluruh semesta. Agama yang baik, sebagaimana juga iman yang baik, kata Muhammad, adalah agama yang menjadi rahmat bagi semesta.
~ dikutip dari buku: Menatap Punggung Muhammad karya Fahd Djibran~