Roller-Coaster track called LIFE
Dear girls… um, boy juga deh.
Girls, you said you are simple. But you put on a bunch of make up on your face, work out and eat less to make your body skinny so you can wear a handless shirt, just to make people call you perfect.
I said i’m perfect, but you said i’m too simple to be called perfect. well, i’m not wearing too much make up and doesn’t have skinny body. It’s okay i guess, i’m comfort with that.
Then you said that you’re different than anybody. Bitch, have you ever noticed how many billion girls who lived in this planet that they exactly have the same looks like??
Cewek-cewek sekarang terlalu mainstream. Contoh, di Indo, berapa banyak cewek yang penampilannya terlihat sama?. Rambut panjang, berbelah tengah, ber-behel, ber-Bebe dan berbadan kecil pakai berbaju tanpa tangan? Banyak ciiyn!! Pabalatak dimana-mana kalau bahasa sundanya mah :(
Anehnya cowok-cowok suka yg kaya begitu. Kalau saya jadi cowok, saya cari cewek yang lain deh…
Seriously girls, don’t you ever want to try something different maybe??
tahun ini kan.
yah taun ini adalah tahun dimana di ramalkan bahwa KIAMAT akan terjadi.namun beberapa orang masih saja menengadah ke atas langit,dan bertanya pada tuhan “ya tuhan?kiamatnya jadi tahun ini kan?aku sudah menyumbangkan seluruh hartaku pada rakyat jelata,yah walaupun 3/4 nya adalah…
the key is, “DUIT” =DOA,USAHA,IKHTIAR,TAWAKAL ;)))”
“Everyone thinks of changing the world, but no one thinks of changing themself”
A true story i found..
“Seribu langkah, dimulai dari satu langkah” how can we change the world if we can’t change ourself first. Perubahan besar baru bisa terealisasi kalau kita merubah hal kecil terlebih dahulu.. Kalau kata sule, seperti bola salju. Mulai dari satu gulung salju, kemudian di-gelinding-kan berubah jadi bola salju yg besar. Klise, but that’s the truth.
Trust me, merubah diri sendiri itu susah, kawan. Apalagi merubah dunia. Berubah itu ga segampang dan sepraktis perubahan Power Ranger. Ciat-ciat-bledag-berubah, dan si musuh hanya diem ngeliatin dan menunggu mereka berubah, baru menyerang. Kenyataannya (dan harusnya) ga begitu, ‘musuh’mu dari awal kamu niat berubah, mereka mulai ‘menyerang’. Bahkan ketika kamu berubah, mereka masih menyerang. Tinggal kamu mau meneruskan berubah, atau berhenti ditengah jalan?
Kalau kamu memang niat untuk berubah, bagaimanapun ‘musuh’mu menyerang, kamu akan selalu menemukan cara agar mereka berhenti menyerang. Walau kamu tau kalau mereka akan menyerangmu lagi..
Ya kalau diibaratkan sih begitu, gatau kenapa saya tetiba punya ide menyambungkan perubahan diri dengan power ranger! Ya intinya sih saya memang sedang melakukan perubahan (untuk lebih baik, tentunya) terhadap diri saya sekarang ini. Dan memang, belum apa” sudah banyak yg ‘menyerang’ dengan kata”nya. Saking seringnya, saya mulai terbiasa :)
Satu hal lagi: orang yang baik, ketika melihat seseorang berubah menjadi lebih baik harusnya mendukung, bukan malah mencibir :)
*just saying*
Kuliner, belanja, jalan Braga. Mungkin itu yang aku tahu dari Bandung. Aku seorang perantau asal Kalimantan, mencoba peruntungan untuk bekerja di Bandung. Alhamdulillah, aku berhasil bekerja sebagai assisten marketing di salah satu hotel, tepatnya berada di jalan Braga. Bisa dibilang pusat kota Bandung.
“heh, kamu anak baru ya?” seorang lelaki berbicara menghampiriku di kantin. Agak sinis namun tersungging senyuman di wajahnya.
“bukan pa, saya anak konda” jawabku sambil nyengir sedikit tersenyum.
“ahhahaha bisa aja kamu. Sini gabung.” Jawabnya sambil memiringkan kepalanya ke kiri. Menunjukan mejanya yang sudah terisi seorang wanita muda berbaju batik. Ku jawab dengan senyuman tanpa menjawab. Kami pun berkenalan. Lelaki itu bernama Boy, dan si wanita itu Listya. Boy adalah atasanku, dia seorang menejer marketing dan Lis seorang reseptionis. Lama berbincang aku tahu mereka adalah sepasang kekasih.
Beberapa bulan bekerja bersama Boy aku merasa nyaman, bisa dibilang mungkin aku mulai jatuh cinta kepadanya. Pacar orang. Kami berdua mulai dekat, terlebih setelah Lis pindah bekerja ke luar kota beberapa bulan lalu. Teman-teman tidak heran dengan kedekatan kami, mungkin karena aku yang memang kelewat ramah dengan semua orang. Bagus lah! Pikirku jahat.
**
Minggu depan akan ada event besar di Bandung. Kata Boy, event itu rutin dilakukan beberapa tahun sekali. Namanya Braga Festival. Jadi, nanti sepanjang jalan braga plus jalan cikapundung akan ditutup selama 3 hari dan akan dibuka pameran, festival. Hmm, cukup menarik. Hotel kami diberi stand untuk mempromosikan hotel.
“Night sweety, jangan lupa besok temani aku meeting ya? Sorenya baru kita kencan ke Bragfest. Bisa kan? Ya ya? Please… :D “ Bujuknya. Kedekatan kami memang kelewat wajar. Mungkin karena dia tidak bisa menjalankan hubungan jarak jauhnya dengan Lis, sehingga dia sering merasa kesepian dan aku selalu ada menemaninya.
Boy terlihat sumringah ketika meeting berakhir. Dengan semangat dia memacu mobilnya menuju Bandung, menuju Braga Festival.
Sampailah kami di jalan Braga. Pertama kulihat begitu banyak lukisan dijajarkan ditengah jalan Braga dengan kiri kanan penjual makanan-makanan dan souvenir khas Bandung. Senja, musik, jalan Braga dan kami yang saling memegang tangan dengan erat. Hari kedua berlalu seperti kemarin, kami masih berdua berpegangan tangan sambil memotret dan sesekali berpelukan. Tidak peduli orang sekitar. Kami masih menelusuri jalan Braga.
Hari ketiga sungguh berat bagiku.
“Lis akan datang ke Bandung Hari ini. Maaf aku gak bisa menemanimu sweety.” Isi sms Boy membuatku tidak mood menghadapi besok. Hmmm…
Hari ini giliranku jaga stand. Siangnya aku datang ke kantor mengambil kaos dan bootsku. Ternyata Boy juga sedang berada di officenya.
“Sudah dapet kaosnya?” Boy mengawali pembicaraan. “Maaf ya” raut menyesal terlihat di wajahnya.
“iya, ngga apa-apa ko. Aku sudah dapet kaosnya, tinggal ganti baju. Daah” jawabku kemudian meninggalkannya.
Baru beberapa langkah keluar hotel aku dibuat terkaget oleh Boy yang memegang tanganku. “Mau pergi bareng?” Tanya nya. Hanya anggukan dan senyuman yang ku berikan. Kami berdua sepanjang jalan berpegangan tangan menuju stand kami yang terletak dijalan Cikapundung. Pegangannya semakin dekat ketika jalan semakin dekat. Dipenghujung jalan Braga dia berhenti, dan kemudian mencium keningku agak lama sambil berbisik “I’ll be back, Hanum. I promise.”. Dan kemudian dia berlari kearah seorang wanita dan memeluknya dari belakang, kearah Listya, kekasihnya.
We never SAY that we love eachother everyday. But we SHOW it. It worth.

Entah sudah berapa banyak mobil lalu lalang didepanku. Entah sudah berapa pengamen mendatangiku berharap selembar uang dariku. Entah sudah berapa kali jarum detik di Jam Gadang ini berputar melewati angka 12. Entah sudah beberapa orang mendatangiku dan bertanya siapa yang aku tunggu lama lama disini. Ya, aku setia menunggunya.
Sedang apa aku disini? Aku menunggu lampu hijau, yang katanya sebentar lagi akan membawa dia pulang. Kesal, marah, bosan, ingin menangis rasanya menunggu lama seperti ini. Apa aku harus menyerah? Tidak!
Dari jauh aku memperhatikan satu sosok perempuan yang sedari tadi duduk melamun termenung melihat ke arah perempatan. Setiap lampu hijau menyala, dia berdiri dan tersenyum walau sedikit. Dia Kiki, kakakku yg masih menunggu suaminya pulang setelah 5tahun menjadi militer. Raut wajah tak sabar menghiasinya. Menangis namun masih tersenyum. Sesekali memanjangkan leher mencari lelaki yg dicarinya. Suaminya menjanjikan akan pulang hari ini. Namun sudah berpulang kemarin dibalut kain kafan dan peti. Dia mati di peperangan.
Kakakku yang masih tidak percaya akan kepulangan suaminya dan tetap menunggu di jam gadang. Sudah 5hari dia menunggu. Ingin rasanya aku menghampiri dan memeluknya, menangis bersama.
pertama: kita berdoa, dan Tuhan menjawabnya dengan mengangkat derajat kita.
kedua: kita berdoa, dan Tuhan menjadikannya sebagai ‘peluntur dosa’ kita, Tuhan menjawabnya dengan mengurangi dosa kita.
ketiga: kita berdoa, dan Tuhan menjadikannya ‘tameng’ dari bala, Tuhan menjawabnya dengan melindungi kita dari marabahaya.
keempat: kita berdoa, dan Tuhan mengabulkan sesuai apa yang ada di doa kita.

“good morning sweetheart” begitu isi pesanmu setiap harinya.
“it’s midnight here, baby” balasku
Bandung – Alaska. Perbedaan waktu 8 jam, semacam Jetlag kalau kata Simple plan dan Natasha Bedingfield.. Long Distance Relationshit. Oops, sorry. Like seriously, saya benci kata-kata itu. Tapi pada akhirnya saya harus menghadapi hal itu. Bayu, pacarku, seorang reporter, harus rela menghabiskan 5bulan kedepan berjauhan denganku, sementara aku bekerja di Bandung. Demi mencari “seonggok uang” katanya. 2 tahun pacaran aku sudah ditinggalnya 3 kali, tapi tak pernah sejauh ini. Ini minggu kedua setelah dia pergi
*
“sweety, skype dong skype” kamu ‘menyebut’ku di twitter. Sudah seminggu tidak ‘bertatap’ dengannya. Setelah minggu kemarin dia menujukan anak anjing Siberian Husky yang dia temui di halte, sekarang apa lagi yang akan dia tunjukkan padaku.
“ampun Baay itu kumis lo! Baru keluar dari gua mana?” begitu reaksiku saat pertama kali menatap layar laptop. Rambut jambul khasnya masih rapi, hanya tumbuh sedikit kumis diwajahnya.
“sengaja beeb, biar macho” candanya.
“geli tau liatnyaaaaaa! Hahaha. Ada apaaaa? Aku masih bikin laporan” balasku sambil menopangkan dagu ke tangan kiriku.
“liat ini apa” sebentar dia menghilang dari layar. Kemudian layarnya bergerak , sepertinya dia membawanya keluar. Melewati pintu hingga terlihat pemandangan serba putih. “ini salju beeb, salju” katamu sambil mengambil kemudian menggenggam seonggok salju.
“someday i’ll take you here for our honeymoon” katamu sambil tersenyum. “i gotta go, call you latter, i love you Anjani” tanpa menunggu aku membalas kamu mematikan skypemu. Kebiasaan!. Meninggalkanku dengan kata-kata rancumu, kata-kata yang membuatku penasaran dan bingung.
*
Beep.. beep.. Ku lihat layar Blackberryku, blackberry messengger.
“sibuk ga? Skype yaa”
Kulihat jam tanganku. 00.04 WIB. Ku berdiri dari tempat tidurku. Masih capek karena kemarin harus lembur sampai jam 9 malam. Ku buka laptopku, ku amati layar, gelap, yang ku lihat hanya lilin yang menyala ditengah taman bertuliskan HAPPY BITRHDAY JANI. Aah, aku hampir lupa kalau hari ini ulang tahunku.
“baaayuuuuuuuuu” kataku setangah terkaget.
“hehe, you like it?” balasnya sambil menghadap layar dengan membawa sekotak cup cakes dengan kata-kata dt atasnya. Aah sweet sekali.
“thank you, i love you” balasku sambil tersenyum kegirangan.
“ayo kita tiup lilinnya” aku dan Bayu sama-sama meniup lilinnya. Hanya Bayu saja sebenarnya. Aku kembali tersenyum. “tua nih ya udah 24. Cepet nikah gih” candanya.
“makanya kamu cepet pulang” godaku.
“jadi kalau aku udah pulang kamu mau nikah sama aku?” terlihat layar laptop bergerak, seperti dia sedang berjalan.
“hmm, tergantung”
“tergantung apaa?”. Terdengar suara seseorang membuka pintu kamarku. Refleks aku membalikkan badan. Dan ya. Bayu berdiri diambang pintu sambil memegangi laptopnya. Terharu, kaget, tak percaya, rindu, senang bercampur jadi satu di hatiku.
“aaaaahhh” teriakku manja sambil berlari memeluknya.
“menikahlah denganku, Jani”. Sambil berbisik dan tanpa menungguku berkata-kata dia membalas pelukanku.
“ya, aku mau” Tanpa basa-basi ku cium bibirnya. Ku peluk dia lebih erat lagi. Tak kan ku biarkan dia pergi lagi.
“well, oke, aku siap menjawab semua pertanyaanmu”
Seakan Bayu tahu apa yang ada di pikiranku. Semalaman kami ‘temu kangen’. Akhirnyaa..